i should make a living as a comic
aku tidak pernah tahan melihat orang sedih
atau berdiam diri termangu sendiri
aku selalu merasa harus berbicara
tentang apa saja
berusaha membuat mereka-mereka tertawa
berusaha menyenangkan mereka
beberapa temanku bilang
mereka selalu melihatku tertawa
seakan-akan duniaku
teramat indahnya
mungkin benar..
aku rasa duniaku indah
tapi bukan indah sebenarnya
aku hidup dalam dunia
yang dibangun dari struktur
penyangkalan yang saling beruntun
dan beribu kasus
permasalahan yang tidak pernah kuselesaikan
aku rasa..
aku terlalu lama berusaha menyenangkan orang
sehingga semuanya harus kututupi dengan kebohongan
yang kurasa bisa terbayar dengan kesenangan di wajah mereka
tapi
satu yang aku lupa
kebohongan itu tetaplah kebohongan
dan suatu saat pasti akan runtuh dinding-dinding rapuhnya
dan setelah sekian tahun
sepertinya Tuhan mulai mereasa perlu
untuk menyingkapkan tabir itu
bahwa senyum dibibirku
dan tawa menggelegarku
tidak lebih dari penyangkalanku
terhadap masalah-masalahku
masalah yang tak pernah ingin kuselesaikan
selama hidup dalam wajah ceriaku
kau tahu..
ternyata lelah sungguh
menyenangkan orang lain itu
dan ketika kau lelah
tiba-tiba kau mulai membenci dirimu
dan menatap dalam cermin dengan ekspresi tanpa garis
sempat suatu malam aku terbangun
dan tersadar
ternyata hidupku tidaklah benar...
ada yang salah
banyak yang salah
tapi siapa yang salah?
tentu saja aku
si pemilik hidupku
(maksudku..
bukan aku yang memiliki hidup
tapi aku yang kedapatan hak gunanya
begitu..)
tapi bagaimana aku benahi hidupku?
jika setiap pagi
aku begitu dan begitu lagi
senyum di bibir
ketawa-ketiwi
sungguh..
aku sungguh mirip zombi
berjalan tanpa jiwa dan seringkali tanpa arah
hanya saja..
penampilanku tidak seseram mereka
karena aku zombi
dengan senyum tiga jari
atau berdiam diri termangu sendiri
aku selalu merasa harus berbicara
tentang apa saja
berusaha membuat mereka-mereka tertawa
berusaha menyenangkan mereka
beberapa temanku bilang
mereka selalu melihatku tertawa
seakan-akan duniaku
teramat indahnya
mungkin benar..
aku rasa duniaku indah
tapi bukan indah sebenarnya
aku hidup dalam dunia
yang dibangun dari struktur
penyangkalan yang saling beruntun
dan beribu kasus
permasalahan yang tidak pernah kuselesaikan
aku rasa..
aku terlalu lama berusaha menyenangkan orang
sehingga semuanya harus kututupi dengan kebohongan
yang kurasa bisa terbayar dengan kesenangan di wajah mereka
tapi
satu yang aku lupa
kebohongan itu tetaplah kebohongan
dan suatu saat pasti akan runtuh dinding-dinding rapuhnya
dan setelah sekian tahun
sepertinya Tuhan mulai mereasa perlu
untuk menyingkapkan tabir itu
bahwa senyum dibibirku
dan tawa menggelegarku
tidak lebih dari penyangkalanku
terhadap masalah-masalahku
masalah yang tak pernah ingin kuselesaikan
selama hidup dalam wajah ceriaku
kau tahu..
ternyata lelah sungguh
menyenangkan orang lain itu
dan ketika kau lelah
tiba-tiba kau mulai membenci dirimu
dan menatap dalam cermin dengan ekspresi tanpa garis
sempat suatu malam aku terbangun
dan tersadar
ternyata hidupku tidaklah benar...
ada yang salah
banyak yang salah
tapi siapa yang salah?
tentu saja aku
si pemilik hidupku
(maksudku..
bukan aku yang memiliki hidup
tapi aku yang kedapatan hak gunanya
begitu..)
tapi bagaimana aku benahi hidupku?
jika setiap pagi
aku begitu dan begitu lagi
senyum di bibir
ketawa-ketiwi
sungguh..
aku sungguh mirip zombi
berjalan tanpa jiwa dan seringkali tanpa arah
hanya saja..
penampilanku tidak seseram mereka
karena aku zombi
dengan senyum tiga jari

<< Home